Tamiang

Tamiang berasal dari kata “Tameng” yang memiliki arti alat penangkis senjata. Dalam kaitan dengan hal ini tamiang merupakan simbol penangkis dari serangan atau sebagai alat perlindungan. Tamiang terbuat dari janur yang berbentuk bulat dan memiliki diameter berbeda-beda serta memiliki hiasan yang berbeda-beda. Dalam konteks perang batin, perang dalam kehidupan berwujud perang fisik di Bhuwana Agung (alam makrokosmos) maupun perang batin di Bhuwana Alit (alamt mikrokosmos). Justru, perang batin yang berkecamuk dalam hati itulah perang terbesar kita, terhebat dan terdahsyat. Inilah perang yang tidak pernah berhenti dan bahkan lebih sering menghadirkan kekalahan bagi umat manusia. Maka dari itu manusia sudah seharusnya  membentengi diri dengan Tamiang (tameng) yang tiada lain berupa pengendalian diri (indria).

Selain itu tamiang  juga memiliki makna sebagai lambang Dewata Nawa Sanga, karena menunjukan sembilan arah mata angin. Dewata Nawa sanga adalah sembilan dewa atau manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang menjaga atau menguasai sembilan penjuru mata angin. Sembilan dewa itu adalah Dewa Wisnu, Sambhu, Iswara, Maheswara, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, dan Siwa. Tamiang juga  melambangkan perputaran roda alam cakraning panggilingan. Lambang itu mengingatkan manusia pada hukum alam Jika masyarakat tak mampu menyesuaikan diri dengan alam, atau tidak taat dengan hukum alam, risikonya akan tergilas oleh roda alam.

Anak Kolonk Bali, menyadur dari fungsi dan makna “Tamiang” bertujuan untuk dapat berperan dalam menjaga Bali, baik adat-istiadat, budaya, alam serta kebersamaan dan kekeluargaan. Turut serta berperan aktif dalam menjaga keamanan masyarakat, bekerjasama dengan berbagai pihak, termasuk Desa Adat.